Di sebuah daerah yang tandus, seekor burung melintas. Menjatuhkan sebutir biji dari paruhnya. Biji tersebut meluncur dan jatuh di dekat kubangan air, di tanah yang basah. Hari berganti hari biji itu tumbuh menjadi sebuah tunas mungil. Genangan air pun habis.
Beruntung sekali, didekatnya terdapat sebuah batu yang cukup besar untuk melindunginya dari teriknya matahari siang. Berhari-hari dia hidup dengan meminum tetesan embun yang menempel di daun dan rantingnya yang masih muda.
Suatu hari yang panas, lewatlah seorang pengembara. Dia bergumam, "Cantiknya tanaman ini. Satu-satunya makhluk hijau di gurun ini."
Mendengar itu si tanaman kecil merasa sangat gembira. "Betulkah itu, wahai pengembara?" tanyanya sambil tersipu malu.
"Betul sekali. Tidak ada tanaman lain yang dapat hidup di daerah tandus ini kecuali kamu," jawab si pengembara sambil mengelus daun-daunnya yang mungil dengan lembut.
Si tanaman kecil merasa sangat bahagia. Ranting dan daunnya yang mungil bergerak-gerak mengikuti desiran angin. Dia tersenyum. Belum pernah ada yang memperlakukan dia sedemikian rupa. Ketika si pengembara pergi setelah menggali lubang untuk menuangkan air di sekitar tanaman kecil itu, dia merasa semangat hidupnya tumbuh kembali. Aku akan terus hidup sampai musim hujan nanti. Supaya dapat membahagiakan pengembara semacam dia lagi. Pikirnya mantap.
Sejak saat itu tanaman mungil itu mempergiat usahanya untuk mendapatkan air dan makanan bagi dirinya. Bila ada kotorang burung jatuh di dekatnya, dia akan berusaha untuk menjulurkan akarnya supaya bisa mencapai kotoran tersebut. Dia juga merundukkan daun-daunnya supaya bisa mendapatkan lebih banyak embun pagi.
Tanpa dia sadari, seluruh bagian tubuhnya dapat bergerak lebih bebas daripada tanaman lain yang pernah ada. Sulur-sulurnya dapat bergerak cepat menangkap tetesan air, sementara akar-akarnya terus menelusuri tanah, mencari sumber air. Dia juga lebih dapat merasakan nyeri, karena sulur dan akarnya terus dilatih untuk merasakan adanya air. Walau sakit, akarnya terus di hujamkan ke dalam tanah, mencari sumber air yang baru bila air yang ada sudah habis.
Dia tidak tahu bahwa gerakannya yang kelewat aktif itu mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dirinya akan air. Dia semakin menderita. Tapi dia terus mencoba untuk bertahan. Hanya sampai musim hujan, tunggu sampai musim hujan. Katanya berulang-ulang pada diri sendiri, bila dia sudah mulai putus asa.
Tapi musim hujan tahun itu terlambat datangnya. Dia tidak tahu, dan terus mencoba untuk bersabar. Sampai akhirnya hembusan angin barat membisikan berita bahwa tidak ada musim hujan sampai musim hujan tahun depan. Tanaman mungil yang sudah menjadi besar itu sangat terkejut mendengarnya. Warnanya menjadi kusam karena sedih, kesal, dan putus asa. Dia menangis sedih menghabiskan semua persediaan air yang dia miliki.
Burung-burung dan hewan-hewan kecil sahabatnya menjerit-jerit, memperingatkan dia untuk segera menyerap kembali air yang dia buang. Tapi dia tidak peduli, dia terus menangis hingga dahannya kering dan daunnya jatuh berguguran. Air yang mengalir ke tanah dalam sekejap menguap karena panas matahari.
Dalam kesedihannya dia terus meratapi semua usahanya untuk menahan rasa nyeri saat mencari air dan makanan. "Padahal aku sudah berusaha, aku sudah menahan diri dengan harapan hujan akan datang," ratapnya sambil tersedu-sedu. "Sekarang aku tidak dapat membahagiakan pengembara yang lewat," isaknya sedih.
Seekor burung hinggap di salah satu dahannya yang layu, mencoba menghibur. "Jangan bersedih! Walau kamu tidak bisa membahagiakan pengembara yang lewat, setidaknya kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri. Tidakkah kamu bahagia bila kamu bisa tumbuh besar?" ujar si burung.
"Tidak bisa. Tidak bisa. Aku sudah terlalu banyak membuang air dari tubuhku. Aku tidak akan bisa pulih kembali," isaknya sambil menggelengkan kepala.
Burung itu berpikir sejenak lalu berkata dengan lantangnya, "Kalau begitu, ambillah jiwaku ini! Hisaplah semua sari kehidupanku, sampai kamu bisa mendapatkan cukup tenaga untuk mencari kembali air untuk hidupmu."
"Sungguhkah?" tanyanya tak percaya.
"Aku hanyalah seekor burung kecil yang tidak berharga. Suatu kehormatan bisa membantu pohon secantik dirimu," jawab burung itu mantap.
Pohon itu menggerakkan sulurnya, membuat sebuah anyaman kurungan mungil yang mengelilingi burung itu. "Aku tak tega membunuhmu, burung kecil," bisiknya.
Tapi kemudian sulur-sulurnya yang kehausan bergerak cepat mempererat anyamannya. Burung itu sempat memekik sejenak. Kemudian hening, burung itu telah mati.
Dia membiarkan gumpalan anyaman sulur tetap pada bentuknya ketika merenggut nyawa burung mungil yang budiman itu. "Aku akan terus hidup, burung kecil. Supaya tidak menyia-nyiakan pengorbananmu," gumamnya lirih.
Bertahan hidup setelah membuang sebagian besar air bukanlah hal yang mudah. Walaupun tenaganya bertambah setelah menghisap jiwa burung kecil, tapi dia membutuhkan air untuk terus hidup. Di tengah keputusasaannya dia melihat seekor unta yang gemuk lewat. Dia gemuk sekali, pasti dia banyak minum air di tempat asalnya, pikirnya sambil memandangi sosok unta itu lewat di depannya. Tiba-tiba unta tersebut berhenti. Dia menunduk melihat beberapa helai daun yang tumbuh di salah satu sulur milik pohon tersebut. Kemudian menggigit dan mengunyahnya.
Pohon itu menjadi berang. "Aku sudah susah payah untuk mempertahankan hidupku dan kamu dengan seenaknya saja memakan daunku?! Tidak dapat dimaafkan!" serunya geram. Tanpa sadar dia menggerakkan sulur-sulurnya ke arah unta tersebut dan meremasnya sambil menghisap semua sari kehidupannya sampai jasadnya hilang tak berbekas.
Saat itu dia merasakan energi kehidupannya pulih dengan cepat. Lebih cepat dari bila dia menghisap air atau kotoran. Ya, begini caranya! Dengan begini aku akan terus bertahan hidup hingga musim hujan nanti, pikirnya gembira. Sejak saat itu dia membunuh setiap makhluk hidup yang lewat di dekatnya untuk diambil sari kehidupannya. Tanpa dia sadari, warna daunnya berubah menjadi semakin gelap dan akhirnya hitam. Namun dia masih tetap mempertahankan bentuk sulur yang dia gunakan untuk membunuh burung kecil sahabatnya.
kurang ... panjang menurutku
wkwkwk
tdnya aku berpikir akhirnya pohon itu jg 'memakan' pengembara yang ia tunggu2...
but cool story
tapi bagus banget ceritanya
coba diilustrasiin pasti keren banget nih
wahaha kalo ni beneran ak keluarin buat anak2 bisa-bisa mereka mimpi jelek semaleman